Aksi heroik penyelamatan para siswa yang hanyut dalam tragedi susur sungai susur sungai, Jumat (22/02/2020) lalu, juga dialami oleh seorang kakek berusia 71 tahun.
Sudiro (71) menceritakan aksi heroiknya saat menyelamatkan para siswa SMPN 1 Turi yang terbawa aliras arus deras Sungai Sempor.
Awalnya dirinya mendengar teriakan anak-anak, di mana saat itu warga Dukuh, Donokerto, Turi tersebut sedang membersihkan makam yang tak jauh dari Sungai Sempor.

Bahkan dirinya pun menyebut sempat memperingatakn para siswa yang akan mengikuti susur sungai tersebut, agar mengurungkan niatannya.
"Saya baru membersihkan makam. Saya sudah mau memperingatkan supaya naik saja karena cuaca tidak mendukung. Lalu sudah dengar anak-anak minta tolong. Anak saya langsung menghampiri,katanya anak-anak kintir (hanyut terbawa arus),"ungkapnya, Senin (24/02/2020).
Baca: Cerita Pilu Tragedi Susur Sungai, sang Ayah Rela Naik Motor Surabaya ke Sleman & Temui Jenazah Anak
Tanpa pikir panjang, ia pun langsung bergegas menuju sungai, sembari membawa tangga panjang.
Walau tak lagi muda, Mbah Diro sapaan karibnya berusaha untuk merengkuh anak-anak yang terbawa arus sungai.
Ia merangkul anak-anak yang hanyut ke tepi sungai.
Bahkan ia menggendong anak-anak yang mulai tak berdaya dan ketakutan.
"Saya sempat ikut hanyut, anak masih di punggung saya. Saya bisa pegangan, tetapi karena batu licin, jadi terpeleset, kaki kena luka," bebernya sambil menunjukkan luka di telapak kakinya.
Hampir 30 anak diselamatkan olehnya dan juga dengan warga yang lain.
Atas keberaniannya, Mbah Diro mendapat tali asih dari Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.
Tak hanya Mbah Diro. Kodir pun mendapat tali asih sebagai apresiasi dan ucapan terimakasih.
"Mereka sudah mempertaruhnya nyawa untuk menyelamatkan anak-anak. Bahkan mereka juga bisa hanyut saat menyelamatkan, tetapi dengan berani mereka tetap membantu. Jangan dilihat dari nilainya, tetapi ini tanda kasih dan ucapan terimakasih saya sebagai ibu anak-anak Sleman," kata Sri Muslimatun.
Kisah Pilu Ayah dari Siswi Korban Tewas Tragedi Susur Sungai
Kisah pilu datang dari seorang ayah yang anaknya menjadi satu di antara korban tewas tragedi susur sungai Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020).
Sang anak Zahra Imelda Salsabila, siswi SMPN 1 Turi, Sleman ditemukan pada Minggu (23/2) sekitar pukul 07.10 WIB.
Ayah mendiang Zahra, Prasetyo Budi, begitu terpukul mendengar kematian anaknya tersebut.
Bahkan saat mendengar soal kabar duka tersebut, Prasetyo Budi sedang tak berada di Sleman, melainkan di Surabaya.
"Jumat saya mendengar kabar, saya langsung pulang dari Surabaya naik motor,” katanya, dilansir TribunJogja.com, Senin (24/2/2020).
“Dan ternyata anak saya sudah tidak ada (meninggal),” lanjutnya lagi.
Padahal pihaknya mengaku sebelumnya sempat berkomunikasi dengan sang anak tersayangnya.
Mendiang Zahra, saat hidup sempat menelpon sang ayah untuk meminta handphone baru.
Baca: Wawancara Eksklusif dengan Pemancing yang Selamatkan Nyawa 20 Siswa yang Hanyut Saat Susur Sungai
“Handphone itu sudah saya siapkan, rencananya libur Sabtu-Minggu saya antar," tuturnya.
Dalam kenangannya, Zahra merupakan anak yang penurut, pintar, pendiam. Kini dia hanya bisa pasrah.
Paman Zahra, Wisnu Hartana menambahkan, dua hari sebelum kejadian musibah susur sungai, Zahra mengajak makan-makan dengan pamannya yang lain.
Namun takdir berkata lain, Zahra menjadi korban pada musibah susur sungai Sempor.
"Dia (Zahra) kan sangat dekat dengan om-nya (paman), sempat mengajak makan-makan rencananya pada Minggu ini, mau diajak makan-makan," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya tragedi maut susur sungai yang terjadi pada siswa SMPN 1 Turi Sleman di Sungai Sempor Sleman, Jumat (21/2/2020), mendatangkan duka tersendiri.
Kejadian maut tersebut terjadi saat ratusan siswa melakukan susur sungai, dalam kegiatan Pramuka sekolah.
Sudiro (71) menceritakan aksi heroiknya saat menyelamatkan para siswa SMPN 1 Turi yang terbawa aliras arus deras Sungai Sempor.
Awalnya dirinya mendengar teriakan anak-anak, di mana saat itu warga Dukuh, Donokerto, Turi tersebut sedang membersihkan makam yang tak jauh dari Sungai Sempor.

Bahkan dirinya pun menyebut sempat memperingatakn para siswa yang akan mengikuti susur sungai tersebut, agar mengurungkan niatannya.
"Saya baru membersihkan makam. Saya sudah mau memperingatkan supaya naik saja karena cuaca tidak mendukung. Lalu sudah dengar anak-anak minta tolong. Anak saya langsung menghampiri,katanya anak-anak kintir (hanyut terbawa arus),"ungkapnya, Senin (24/02/2020).
Baca: Cerita Pilu Tragedi Susur Sungai, sang Ayah Rela Naik Motor Surabaya ke Sleman & Temui Jenazah Anak
Tanpa pikir panjang, ia pun langsung bergegas menuju sungai, sembari membawa tangga panjang.
Walau tak lagi muda, Mbah Diro sapaan karibnya berusaha untuk merengkuh anak-anak yang terbawa arus sungai.
Ia merangkul anak-anak yang hanyut ke tepi sungai.
Bahkan ia menggendong anak-anak yang mulai tak berdaya dan ketakutan.
"Saya sempat ikut hanyut, anak masih di punggung saya. Saya bisa pegangan, tetapi karena batu licin, jadi terpeleset, kaki kena luka," bebernya sambil menunjukkan luka di telapak kakinya.
Hampir 30 anak diselamatkan olehnya dan juga dengan warga yang lain.
Atas keberaniannya, Mbah Diro mendapat tali asih dari Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.
Tak hanya Mbah Diro. Kodir pun mendapat tali asih sebagai apresiasi dan ucapan terimakasih.
"Mereka sudah mempertaruhnya nyawa untuk menyelamatkan anak-anak. Bahkan mereka juga bisa hanyut saat menyelamatkan, tetapi dengan berani mereka tetap membantu. Jangan dilihat dari nilainya, tetapi ini tanda kasih dan ucapan terimakasih saya sebagai ibu anak-anak Sleman," kata Sri Muslimatun.
Kisah Pilu Ayah dari Siswi Korban Tewas Tragedi Susur Sungai
Kisah pilu datang dari seorang ayah yang anaknya menjadi satu di antara korban tewas tragedi susur sungai Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020).
Sang anak Zahra Imelda Salsabila, siswi SMPN 1 Turi, Sleman ditemukan pada Minggu (23/2) sekitar pukul 07.10 WIB.
Ayah mendiang Zahra, Prasetyo Budi, begitu terpukul mendengar kematian anaknya tersebut.
Bahkan saat mendengar soal kabar duka tersebut, Prasetyo Budi sedang tak berada di Sleman, melainkan di Surabaya.
"Jumat saya mendengar kabar, saya langsung pulang dari Surabaya naik motor,” katanya, dilansir TribunJogja.com, Senin (24/2/2020).
“Dan ternyata anak saya sudah tidak ada (meninggal),” lanjutnya lagi.
Padahal pihaknya mengaku sebelumnya sempat berkomunikasi dengan sang anak tersayangnya.
Mendiang Zahra, saat hidup sempat menelpon sang ayah untuk meminta handphone baru.
Baca: Wawancara Eksklusif dengan Pemancing yang Selamatkan Nyawa 20 Siswa yang Hanyut Saat Susur Sungai
“Handphone itu sudah saya siapkan, rencananya libur Sabtu-Minggu saya antar," tuturnya.
Dalam kenangannya, Zahra merupakan anak yang penurut, pintar, pendiam. Kini dia hanya bisa pasrah.
Paman Zahra, Wisnu Hartana menambahkan, dua hari sebelum kejadian musibah susur sungai, Zahra mengajak makan-makan dengan pamannya yang lain.
Namun takdir berkata lain, Zahra menjadi korban pada musibah susur sungai Sempor.
"Dia (Zahra) kan sangat dekat dengan om-nya (paman), sempat mengajak makan-makan rencananya pada Minggu ini, mau diajak makan-makan," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya tragedi maut susur sungai yang terjadi pada siswa SMPN 1 Turi Sleman di Sungai Sempor Sleman, Jumat (21/2/2020), mendatangkan duka tersendiri.
Kejadian maut tersebut terjadi saat ratusan siswa melakukan susur sungai, dalam kegiatan Pramuka sekolah.
0 komentar:
Posting Komentar